Ringkasan Jurnal

 
Nama : Rahildawati
Tingkat : 1 B
Nim : PO713201231066
Jurnal Internasional
 1) Judul Jurnal : 
Impact of mobile phone-specific electromagnetic fields on DNA damage caused by occupationally relevant exposures: results of ex vivo experiments with peripheral blood mononuclear cells from different demographic groups
Link :
Abstrak :
The aim of this study was to investigate if age and body mass of humans have an impact on the DNA-damaging properties of high-frequency mobile phone-specific electromagnetic fields (HF-EMF, 1950 MHz, universal mobile telecommunications system, UMTS signal) and if this form of radiation has an impact on the genotoxic effects of occupationally relevant exposures. Pooled peripheral blood mononuclear cells (PBMC) from three groups [young normal weight, young obese (YO), and older age normal weight individuals] were exposed to different doses of HF-EMF (0.25, 0.5, and 1.0 W/kg specific absorption rate—SAR) and simultaneously or sequentially to different chemicals which cause DNA damage (CrO3, NiCl2, benzo[a]pyrene diol epoxide—BPDE, and 4-nitroquinoline 1-oxide—4NQO) via different molecular mechanisms. We found no difference in regard to the background values in the three groups but a significant increase of DNA damage (81% without and 36% with serum) in cells from old participants after radiation with 1.0 W/kg SAR 16 h. In combined treatment experiments we found no impact of the UMTS signal on chemically induced DNA damage in the different groups in general. However, a moderate decrease of DNA damage was seen in simultaneous treatment experiments with BPDE and 1.0 W/kg SAR in the YO group (decline 18%). Taken together our findings indicate that HF-EMF cause DNA damage in PBMC from older subjects (69.1 years). Furthermore, they show that the radiation does not increase induction of DNA damage by occupationally relevant chemicals.
2) Judul Jurnal :
 Reconstructed human intestinal comet assay, a possible alternative in vitro model for genotoxicity assessment. 
 Link :


  Abstrak :
The aim of this study was to investigate if age and body mass of humans have an impact on the DNA-damaging properties of high-frequency mobile phone-specific electromagnetic fields (HF-EMF, 1950 MHz, universal mobile telecommunications system, UMTS signal) and if this form of radiation has an impact on the genotoxic effects of occupationally relevant exposures. Pooled peripheral blood mononuclear cells (PBMC) from three groups [young normal weight, young obese (YO), and older age normal weight individuals] were exposed to different doses of HF-EMF (0.25, 0.5, and 1.0 W/kg specific absorption rate—SAR) and simultaneously or sequentially to different chemicals which cause DNA damage (CrO3, NiCl2, benzo[a]pyrene diol epoxide—BPDE, and 4-nitroquinoline 1-oxide—4NQO) via different molecular mechanisms. We found no difference in regard to the background values in the three groups but a significant increase of DNA damage (81% without and 36% with serum) in cells from old participants after radiation with 1.0 W/kg SAR 16 h. In combined treatment experiments we found no impact of the UMTS signal on chemically induced DNA damage in the different groups in general. However, a moderate decrease of DNA damage was seen in simultaneous treatment experiments with BPDE and 1.0 W/kg SAR in the YO group (decline 18%). Taken together our findings indicate that HF-EMF cause DNA damage in PBMC from older subjects (69.1 years). Furthermore, they show that the radiation does not increase induction of DNA damage by occupationally relevant chemicals.
3) Judul Jurnal :
Measuring blood cell DNA damage using the PIG-A mutation and CBMN assay in pancreatic cancer patients: a pilot study
 Link :

 Abstrak :
Pancreatic cancer still has one of the worst prognoses of all solid malignancies, despite developments in cancer knowledge and care. Research into pancreatic cancer has not fully translated into clinical improvements and as a result, fewer than 1% of patients survive 10 years post-diagnosis. This bleak outlook for patients could be improved by earlier diagnosis. The human erythrocyte phosphatidylinositol glycan class A (PIG-A) assay monitors the mutation status of the X-linked PIG-A gene by measuring glycosyl phosphatidylinositol (GPI)-anchored proteins on the extracellular surface. We have previously identified an elevated PIG-A mutant frequency in oesophageal adenocarcinoma patients and here investigate whether this could be seen in a pancreatic cancer cohort, given the urgent need for novel pancreatic cancer biomarkers. In our pilot study, an elevated PIG-A mutant frequency (5.775 × 10−6 (95% CI 4.777–10) mutants per million) was seen in pancreatic cancer patients (n = 30) when compared to the non-cancer control group (n = 14) who had an erythrocyte mutant frequency of 4.211 × 10−6 (95% CI 1.39–5.16) mutants per million (p = 0.0052). A cut-off value of 4.7 mutants per million provided an AUROC of 0.7595 with a sensitivity of 70% and specificity of 78.57%. A secondary measure of DNA damage in an alternative blood cell population also showed an increase in peripheral lymphocytes using the cytokinesis-block micronucleus assay (p = 0.0164) (AUROC = 0.77, sensitivity = 72.22%, specificity = 72.73%). The micronucleus frequency and PIG-A status show some potential as blood-based biomarkers of pancreatic cancer, but further investigations of these DNA damage tests are required to assess their utility in pancreatic cancer diagnosis.
 Jurnal Nasional
 1) Judul Jurnal : 
Dampak Positif Pembelajaran Online Dalam Sistem Pendidikan Keperawatan Pasca Pandemi Covid 19
Link :

Abstrak :
Pandemi covid-19 membuat hampir seluruh kegiatan dihentikan sementara waktu termasuk dunia pendidikan yang terpaksa melaksanakan pembelajaran secara online atau berani khususnya di perguruan tinggi, langkah ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran covid-19 di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran online dari sudut pandang mahasiswa dan dosen. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan secara online. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa dan dosen Universitas Adiwangsa Jambi. Sampel diambil melalui teknik nonprobability sampling cluster sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 64 mahasiswa dan 12 dosen. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif.
2) Judul Jurnal :
Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Kerja Perawat dalam Kelengkapan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. 
Link :

Abstrak :
Latar Belakang: Pendokumentasian proses keperawatan yang telah dilaksanakan mempunyai arti penting bagi setiap rumah sakit, kurangnya pendokumentasian akan berdampak pada mutu pelayanan. Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan catatan yang memuat segala informasi tentang klien yang diperlukan untuk menentukan diagnosis, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi secara sistematis dan rahasia. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan kerja perawat dalam pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya. Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif cross sectional study pada populasi RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang berjumlah 217 perawat dengan sampel 70 orang. Hasil: Faktor pengetahuan tidak ada hubungan dengan kepatuhan dokumentasi asesmen ulang nyeri (p value = 0,510), motivasi dengan kinerja dalam pelaksanaan dokumentasi di RS Sukadana (p value = 0,003), 35 responden mempunyai beban kerja yang berat dalam melakukan dokumentasi yang tidak lengkap sebanyak 97,1%, Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan kerja perawat, dengan nilai Exp(B) sebesar 0,167. Kesimpulan : Motivasi perawat sangat diperlukan dalam pekerjaan perawat karena motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat kerja. Apabila motivasi seseorang kurang maka semangat dalam bekerja juga akan menurun karena tidak adanya semangat dalam bekerja. Kata Kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja ABSTRAK Latar belakang: Pendokumentasian proses pembasmian yang telah dilakukan mempunyai arti penting bagi setiap rumah sakit, kurangnya dokumentasi maka akan berdampak pada kualitas pelayanan. Dokumentasi pengasuhan adalah catatan yang memuat seluruh informasi tentang klien yang diperlukan untuk menentukan diagnosis, menyusun rencana, implementasi, evaluasi secara sistematis dan rahasia. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kerja perawat dalam pendokumentasian pemeliharaan di ruang rawat inap RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Metode: Desain penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan kuantitatif studi cross sectional populasi RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang berjumlah sebanyak 217 perawat dengan sampel 70 orang. Hasil: Faktor pengetahuan tidak memiliki hubungan dengan kepatuhan pendokumentasian penilaian ulang nyeri (nilai p = 0,510), motivasi dengan kinerja dalam pelaksanaan pendokumentasian di RSUD Sukadana (nilai p = 0,003), 35 responden memiliki beban kerja berat melakukan pendokumentasian tidak lengkap sebanyak 97,1%, Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kerja perawat, dengan nilai nilai Exp (B) sebesar 0,167. Kesimpulan: Motivasi perawat sangat dibutuhkan dalam pekerjaan perawat karena dengan motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja. Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja motivasi dengan kinerja dalam pelaksanaan pendokumentasian di RSUD Sukadana (nilai p = 0,003), 35 responden memiliki beban kerja berat melakukan pendokumentasian tidak lengkap sebanyak 97,1%, Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan kerja perawat, dengan nilai nilai Exp (B) sebesar 0,167. Kesimpulan: Motivasi perawat sangat dibutuhkan dalam pekerjaan perawat karena dengan motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja. Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja motivasi dengan kinerja dalam pelaksanaan pendokumentasian di RSUD Sukadana (nilai p = 0,003), 35 responden memiliki beban kerja berat melakukan pendokumentasian tidak lengkap sebanyak 97,1%, Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan kerja perawat, dengan nilai nilai Exp (B) sebesar 0,167. Kesimpulan: Motivasi perawat sangat dibutuhkan dalam pekerjaan perawat karena dengan motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja. Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kerja perawat, dengan nilai nilai Exp (B) sebesar 0,167. Kesimpulan: Motivasi perawat sangat dibutuhkan dalam pekerjaan perawat karena dengan motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja. Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor motivasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kerja perawat, dengan nilai nilai Exp (B) sebesar 0,167. Kesimpulan: Motivasi perawat sangat dibutuhkan dalam pekerjaan perawat karena dengan motivasi yang baik dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja. Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja Jika motivasi seseorang kurang maka semangat untuk melakukan pekerjaan tersebut juga akan berkurang karena tidak munculnya semangat kerja.Kata kunci: pengetahuan; motivasi; beban kerja. 
3) Judul Jurnal :
 Pendampingan Lansia dalam Pelayanan Keperawatan Mandiri Dengan Masalah Nyeri Kronik
 Link :
 Abstrak :
Menurunnya fungsi biologis akibat proses penuaan berdampak pada kerusakan jaringan organ pada lansia, sehingga rentan terhadap berbagai penyakit termasuk nyeri kronis. Penatalaksanaan nyeri pada lansia penderita osteoartritis di masyarakat sebagian besar menggunakan obat pereda nyeri, dan jarang menggunakan terapi non farmakologi, padahal penggunaan penatalaksanaan nyeri non farmakologi memiliki risiko efek samping obat yang lebih kecil. Solusi yang perlu dilakukan adalah Pendampingan pada Lansia dalam Pelayanan Keperawatan Mandiri dengan Masalah Sakit Kronis. Metode pelaksanaannya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga lanjut usia, melakukan pendampingan penatalaksanaan nyeri kronis secara mandiri, membantu mengembangkan program puskesmas terpadu bagi lansia mengenai penatalaksanaan nyeri kronik dan melakukan pelatihan bagi kader kesehatan lanjut usia. Hasil pelaksanaan pendampingan lansia dilaksanakan dalam empat kegiatan antara lain penyuluhan kesehatan lansia dan keluarga, pendampingan penanganan nyeri kronis secara mandiri, optimalisasi program puskesmas terpadu lansia tentang manajemen nyeri, dan pelatihan kader kesehatan lansia. Pendampingan lansia dalam pelayanan keperawatan mandiri sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia dalam meningkatkan penanganan permasalahan yang terjadi pada lansia salah satunya nyeri kronik pada lansia yaitu dengan pelayanan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan di rumah, sehingga sehingga menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif optimalisasi program Puskesmas Terpadu Lansia tentang manajemen nyeri dan pelatihan kader kesehatan lanjut usia. Pendampingan lansia dalam pelayanan keperawatan mandiri sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia dalam meningkatkan penanganan permasalahan yang terjadi pada lansia salah satunya nyeri kronik pada lansia yaitu dengan pelayanan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan di rumah, sehingga sehingga menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif optimalisasi program Puskesmas Terpadu Lansia tentang manajemen nyeri dan pelatihan kader kesehatan lanjut usia. Pendampingan lansia dalam pelayanan keperawatan mandiri sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia dalam meningkatkan penanganan permasalahan yang terjadi pada lansia salah satunya nyeri kronik pada lansia yaitu dengan pelayanan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan di rumah, sehingga sehingga menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif




    
   
 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yuk Kenalan dengan Kampus Poltekkes Kemenkes Makassar di Tidung!